Archive for January, 2006

Monday, January 16th, 2006

Keterpaksaan yang Menyenangkan

Lelaki bertubuh kurus itu berjalan pelan di tengah jalan Tol Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kulitnya hitam  tersengat matahari.

Ia terbiasa menantang bahaya di tengah keramaian jalan tol yang selalu macet itu. Namun, ia  tak peduli.

Setumpuk tabloid di dekapnya dengan tangan kiri. Tangan kanannya melambaikan satu eksemplar tabloid. Bukan tabloid biasa yang dibawanya, tetapi di halaman muka media itu terpampang foto seorang perempuan berbusana superminim.

"Tiga ribu rupiah saja, Bos," seru lelaki itu. Ia adalah M.Rasul, 22. Setiap hari ia mencari nafkah dengan menjual tabloid porno di jalan Tol Kebon Jeruk. Lelaki asli Betawi ini sangat setia menjalani usahanya yang telah ditekuninya selama tiga tahun itu.

Panas terik matahari dan ramainya laju lintas kendaraan tak pernah dihiraukannya. "Saya butuh uang untuk hidup," ujarnya singkat.

Menjadi pedagang asongan tabloid porno bukanlah cita-cita Rasul. Saat lulus SMA empat tahun lalu, ia ingin menjadi petugas satpam di pabrik sekitar rumahnya. Namun, pekerjaan itu tak juga ia dapatkan. Akhirnya ia terpaksa berjualan koran dan majalah di Terminal Kalideres, Jakarta Barat.

Sayang, dagangannya itu tak diminati orang. "Sehari saya paling dapat Rp5.000 untuk dibawa pulang," tuturnya. Lalu seorang teman mengajaknya berjualan tabloid porno di jalan Tol Kebon Jeruk. Lantaran butuh uang, ajakan itu disambutnya. Lelaki lajang ini pun akhirnya menjajakan tabloid porno di tengah kemacetan jalan Tol Kebon Jeruk.

Awalnya, ia merasa canggung harus berjualan tabloid porno. "Waktu itu saya malu sekali. Takut dibilang tak tahu diri," kata Rasul mengenang.

Lama-lama ia terbiasa juga. Hasilnya pun sangat memuaskan. "Saya bisa dapat uang minimal Rp20.000 sehari. Jauh lebih besar daripada berjualan koran biasa," ujarnya.

Pelanggan Rasul sebagian besar adalah sopir truk dan bus. Namun, ada juga pelanggan yang naik mobil pribadi. "Malah waktu itu ada bule yang beli tabloid saya," ujarnya dengan bangga.

Namun, menjalani usaha sebagai pengasong ini bukannya tak ada aral.

Untuk menuju lokasi jualan saja membutuhkan perjuangan yang ekstra menantang. Setidaknya, Rasul harus merangkak di antara semak-semak untuk menerobos masuk ke jalan tol. Belum lagi risiko tertabrak mobil yang melaju kencang. Kucing-kucingan dengan petugas patroli jalan tol adalah hal biasa. Bahkan, Rasul pernah dua kali ditangkap.

Namun nyalinya tak ciut. "Setiap ditangkap, dagangan saya disita. Untung tidak dipenjara," papar Rasul.

Kini setelah tiga tahun, tak hanya tabloid porno yang dijajakannya.

"Saya juga jualan buku bergambar XXX, dan stensilan," bisiknya pelan.

Harganya Rp5.000, termasuk bonus satu eksemplar tabloid porno. Namun, barang dagangan yang satu ini tak dijajakannya secara terbuka. Ia juga sangat hati-hati memilih calon konsumennya. Pasalnya, ia pernah kena batunya. Setahun yang lalu, ia ditampar seorang lelaki yang ditawarinya buku porno. "Orang itu tersinggung saat saya tawari buku porno," ujarnya sambil tertawa.

Bagi Rasul, menjual buku porno adalah keterpaksaan yang menyenangkan.

Betapa tidak, dicibir dan dicaci terpaksa diterimanya. Belum lagi risiko yang mengintai tak sebanding dengan penghasilan.

"Kalau ada pekerjaan lain, saya mungkin berhenti jualan tabloid porno," tuturnya perlahan.

Tapi setidaknya ia bisa menghibur diri dengan jualannya itu.

"Saat sedang melamun atau sumpek, saya selalu melihat gambar perempuan telanjang, jualan saya. Rasanya nikmat juga kok," katanya sambil tersenyum. Lalu Rasul berlalu. Ia melangkah menuju Musholla di sebuah kampus di tepian jalan tol. "Saya mau sholat ashar," ujarnya pelan. Dipujanya sang khalik sesuai iman. Buah petuah almarhum M.Fathoni, ayahnya.

Dipersulit pengadilan

Monday, January 16th, 2006

Susahnya Rakyat Kecil Cari Keadilan

SORE itu Hidayat, 26, tukang ojek di Cengkareng, Jakarta Barat, tampak gelisah. Sesekali ia mengusap peluh yang mengalir di keningnya.

Ia sedang menunggu waktu sidang untuk kasus narkoba di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. "Ini sidang yang kesepuluh," bisiknya halus.

Hidayat berharap dalam sidang kali ini majelis hakim memutuskan dirinya tidak bersalah. Sayang, harapan Hidayat pupus. Majelis hakim berhalangan hadir. Sidang terpaksa ditunda, kekesalan pun tampak begitu kentara di wajah Hidayat. "Saya sudah bosan sidang," umpatnya kesal.

Tertundanya persidangan kali ini membuat Hidayat cemas. Pasalnya sudah sepuluh kali ia disidang dan tujuh bulan sudah ia mendekam di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba, Jakarta Pusat, tanpa kepastian. "Padahal saya ingin tahu, apakah saya divonis bersalah atau dinyatakan tidak bersalah," ujarnya kesal.

Kisah yang dialami Hidayat bermula malam 15 April 2005 lalu. Sebagai tukang ojek, malam itu ia tengah mengantar Dede bin Sukri, 19. "Dia naik dari Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat, minta diantar ke Joglo," papar Hidayat.

Namun belum jauh dari Kampung Ambon, ia dicegat polisi yang kebetulan sedang melakukan razia. Dasar sial, sang penumpang rupanya membawa satu amplop ganja kering. Tak ayal, Hidayat pun ikut digiring ke Polsek Cengkareng bersama sang penumpang, Dede. Di sana ia ditanyai polisi asal-usul ganja yang dibawa penumpangnya. "Saya juga dipaksa mengaku sering mengantar Dede membeli narkoba. Padahal saya ketemu Dede baru malam itu," kata Hidayat. Akhirnya Hidayat terpaksa menginap di sel Polsek Cengkareng. Sepeda motor bebek kesayangan yang jadi andalan mengais rezeki pun disita polisi. "Katanya untuk barang bukti. Padahal kreditnya belum lunas," keluh Hidayat.

Ia juga mengaku tak tahu lagi di mana keberadaan sepeda motornya itu.

Awal Mei 2005, Hidayat kemudian dipindahkan ke Rutan Salemba. Lalu sidang demi sidang terpaksa dilakoninya. Ia didakwa menjadi pengedar dan pemakai narkoba oleh jaksa. Awalnya ia mengaku tenang dan yakin dirinya akan divonis bebas. "Saya kan cuma mengantar penumpang. Jadi saya tidak bersalah," ucapnya yakin.

Namun keyakinan itu lama-kelamaan pupus tergerus waktu. Lamanya proses persidangan membuatnya patah arang dan benci pengadilan. "Siapa yang tidak jengkel, sidang saya berkali-kali ditunda. Ada yang gara-gara saksi tidak datang, hakimnya berhalangan, jaksa berhalangan. Pokoknya macam-macam deh!" Perlahan ia jadi tidak percaya pada pengadilan. "Kalau saya punya banyak uang, mungkin saya akan cari pengacara yang mahal dan menyogok hakim. Biar saya cepat bebas. Sayang, saya cuma tukang ojek," ujar Hidayat.

Balada Cinta Sang Penjagal

Monday, January 16th, 2006

Sepenggal Kisah Ida dan Suud,
‘Saya Sangat Mencintainya walau Maut Memisahkan Kami’

CINTA sejati takkan pernah mati. Sepenggal syair lagu ‘Cinta Sejati’ lantunan penyanyi Arri Lasso itu begitu pas untuk menggambarkan perasaan Ida Nurhandayani, 22, pada suaminya Suud Rusli, terpidana mati kasus pembunuhan Direktur Utama PT Asaba, Budiarto Angsono.

"Ia cinta pertama saya," tutur Ida lirih. Di matanya Suud adalah sosok pria terbaik dan terlembut yang pernah dikenalnya.

Ida memang luar biasa. Dengan tubuhnya yang proporsional, wajah mungil berhias alis tipis, menunjukkan pesonanya sebagai sosok perempuan idaman bagi Suud. Lalu dengan nada tertahan, lewat bibir mungilnya, perempuan muda ini menuturkan kisah manis dan getir saat ia bersama mantan kopral dua Marinir itu. Tiga tahun silam, Suud datang ke rumah Ida di Pondok Labu, Jakarta Selatan, untuk mencari rumah kos. "Saat datang, ia tampak begitu gagah dengan baju dinas Marinir," kenang Ida.

Lalu gadis berkulit bersih itu tergerak hati menolong Suud mencari kos. "Akhirnya kami mendapatkan rumah kos, tepat di belakang rumah saya," lanjut Ida.

Lantaran bertetangga, Suud sering berkunjung ke rumah Ida. "Ia begitu baik dan perhatian kepada saya," Ujarnya pelan. Kebaikan dan perhatian dari Suud, lambat laun meluluhkan hatinya. Ia pun jatuh cinta kepada Suud yang lebih tua 14 tahun dari dirinya.

Laiknya sepasang kekasih, keduanya kerap bermalam mingguan. "Biasanya kami makan seafood di Jalan Fatmawati. Mas Suud selalu pesan ikan bakar dan udang saus siram," tutur Ida.

Cinta membara di dada Ida semakin menjadi justru saat Suud secara jujur mengaku telah beranak istri. "Ia bilang kalau istrinya membawa anaknya, Arini Sherly Rusli, pergi meninggalkan dirinya. Saya merasa sangat iba mendengarnya," papar Ida.

Lalu 19 Juli 2003, terjadilah peristiwa yang mengubah hidup Ida selamanya. Suud Rusli dan tiga kawannya menembak mati bos PT Asaba.

"Saya shock mendengarnya. Saya tidak percaya orang selembut dia tega membunuh orang," sahut Ida sambil menyibakkan rambut pendeknya.

Atas perbuatannya Suud Rusli pun divonis hukuman mati. Namun, cinta sejati Ida tidak luntur setitik pun, sekalipun keluarganya marah besar dan melarangnya berhubungan lagi dengan Suud. Bahkan, atas nama cinta pula ia menuruti saja ketika Suud menyuruhnya membawakan gergaji besi.

"Mas Suud bilang kalau ia butuh gergaji besi untuk memperbaiki tempat tidurnya di sel," tuturnya lugu.

Gergaji besi itulah yang dipakai Suud saat pelarian pertamanya 5 Mei 2005 silam. Saat pelarian kedua Suud, 6 November 2005, Ida memutuskan ikut. Ia kabur dari rumah dan pergi bersama Suud ke Subang. Karena cinta yang sangat besar, akhirnya 17 November lalu mereka menikah secara siri di tempat persembunyian mereka di Subang, Jawa Barat.

Bulan madu pun terpaksa mereka nikmati dalam pelarian. Akhirnya 23 November lalu mereka ditangkap aparat saat berada dalam sebuah gubuk di tengah sawah di Subang. Kini Suud Rusli kembali mendekam di Rumah Tahanan Militer (RTM), Cimanggis, Depok, dengan pengamanan yang sangat ketat. Ajalnya pun tak lama lagi. Namun, Ida tetap setia menunggu. Ia mengaku tidak ingin menambatkan hatinya pada pria lain. Sekarang Ida berharap ia diberi kesempatan menemui Suud menjelang eksekusi mati suaminya itu. "Saya ingin mengatakan ke Mas Suud. Saya sangat mencintainya meskipun maut memisahkan kami," desahnya. Ida, betapa dalamnya cintamu.