Kesaksian korban banjir 2007
Ciledug Indah II
Kamis, 4 Februari 2007
07.00 WIB Hujan deras sejak malam hari. Selokan mulai penuh. Aku masih santai,
dengan sebatang rokok terselip di bibir. Sambil menyeruput segelas teh
"Tong Djie" hangat, kubaca koran pagi.
12.00 WIB Hujan akhirnya berhenti, aku bersiap berangkat liputan.
12.30 WIB Aku terjebak macet. Seluruh akses keluar Ciledug ternyata sudah terendam
banjir. Akhirnya kuputuskan kembali ke rumah.
13.00 WIB Air rupanya juga sudah menggenang jalan komplek rumahku setinggi mata
kaki.
15.00 WIB Air akhirnya mencapai rumahku. Kuputuskan mengungsikan istriku, yang
tengah hamil 6 bulan ke rumah kakakku di Karawaci, Tangerang.
17.00 WIB Aku gagal mengungsikan istriku. Jalan menuju Karawaci sudah terendam
banjir lebih dari satu meter.
18.00 WIB Air sudah setinggi betis orang dewasa.
18.30 WIB Aku mengungsikan istriku ke rumah teman yang letaknya lebih tinggi dari
rumahku.
19.00 WIB Tinggi air mencapai paha orang dewasa. Aku sibuk memindahkan
barang-barang elektronik ke lantai dua.
19.30 WIB Air sudah mencapai pinggangku.
20.00 WIB Air semakin tinggi. Aku bergegas meninggalkan rumah, menuju rumah teman,
tempat istriku mengungsi. Hanya satu tas punggung baju-baju istriku yang
sempat aku bawa.
24.00 WIB Banjir semakin menggila. Air bercampur lumpur kecoklatan mengalir sangat
deras, menghanyutkan semua yang dilaluinya.
Jumat, 5 Februari 2007
05.00 WIB Air dengan arus yang sangat deras semakin tinggi, mencapai kepala orang
dewasa.
06.00 WIB Lantai satu rumah pengungsianku mulai kemasukan banjir. Kami bergegas
pindah ke lantai 2.
07.00 WIB Kuterima kabar jika rumahku, hanya tinggal atapnya saja yang terlihat.
09.00 WIB Ketinggian air di lantai satu rumah pengungsian sudah mencapai paha orang
dewasa.
10.00 -
24.00 WIB Kuhabiskan hari ini di lantai dua rumah pengungsian. Tanpa makan malam.
Banjir tak kunjung surut.
Sabtu, 6 Februari 2007
08.00 WIB Stok makanan sudah habis. Kami hanya sarapan Indomie seadanya.
10.00 WIB Kami memutuskan untuk keluar dari rumah pengungsian.
12.00 WIB Perahu karet tim SAR lewat. Tapi mereka tidak memedulikan teriakan kami.
Padahal ada empat anak bayi dan satu ibu hamil di rumah pengungsian.
13.00 WIB Akhirnya kami terpaksa mendatangi lokasi perahu karet, sambil berenang
terbawa arus. Segera kunaikkan istriku ke atas perahu. Sementara aku
berenang mengikuti. Tiba-tiba arus deras menyeretku. Gila….aku nyaris
tenggelam terseret arus. Disaat itu, kudengar jeritan tangis istriku. Aku lalu
berusaha melawan arus, sampai akhirnya seutas tali dilemparkan ke arahku.
Akhirnya aku lolos dari maut.
13.30 WIB Akhirnya aku dan istriku berhasil sampai di tempat yang kering.
14.00 WIB Kudatangi posko kesehatan. Lalu betapa geramnya aku melihat makanan
untuk pengungsi, malah dimakan oleh orang-orang kampung bermental
murahan, yang mencoba mencari makanan gratisan. Padahal ratusan orang
yang tak mampu keluar dari banjir, kelaparan dan kedinginan. Begitu
bangsatnya para pencari makanan gratisan itu. Lalu secara tak sadar, aku
berteriak ke para relawan dan pencari makanan gratisan itu. "Bangsat!!! Di
dalam masih banyak orang kelaparan dan kedinginan. Kalian malah rebutan
makanan. Kenapa kalian tidak berusaha mengantarkan makanan itu ke
mereka," teriakku.
February 6th, 2007 at 9:22 pm
*pukpuk*